Lampu LED murah sekarang semakin membanjiri pasaran. Mereka hadir dengan harga yang sangat murah dibandingkan produsen dengan merek bonafit. Produsen yang menghadirkan lampu LED murah ternyata tidak dapat menggaransi umur lampu dapat digunakan dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, lampu LED yang ditawarkan dengan harga sangat murah ternyata hanya mendapatkan waktu garansi yang cukup singkat, yakni antara 2 minggu hingga 2 bulan. Pada umumnya lampu LED murah disertakan garansi selama 1 bulan. Waktu tersebut diprediksi lampu tidak akan mengalami kerusakan bila digunakan secara wajar. Pada kenyataannya lampu LED murah sering mengalami kerusakan setelah masa penggunaan di atas 3 bulan. Tentunya, kerusakan biasa terjadi di luar masa garansi sehingga produsen lampu tidak memiliki kewajiban untuk menanggung kerusakan lampu LED hasil produksi mereka. Mengapa lampu LED murah lebih mudah rusak? Mari kita selidiki penyebab lampu LED murah gampang rusak.

Penyebab lampu LED murah gampang rusak

Masalah yang terjadi pada lampu LED murah adalah sering rusak. Produk lampu LED 3 Watt hingga 7 Watt dapat diperoleh dengan harga di bawah sepuluh ribu rupiah(pada saat artikel ini ditulis). Harga tersebut merupakan harga penawaran yang sangat murah kepada masyarakat. Namun, produk murah tersebut tidak awet untuk digunakan. Banyak pihak yang mengeluhkan hal yang sama. Setelah melewai masa penggunaan di atas 3 bulan, LED menjadi mudah rusak. Ternyata, lampu LED murah memiliki banyak kekurangan dalam segi rancangan.

Arus listrik tidak stabil

LED murah tidak menanamkan driver khusus LED seperti yang ditanamkan oleh produsen LED ternama. Produsen LED murah hanya memberikan pembatas arus yang bersifat kapasitif. Sistem pembatasan arus ini tidak dapat memberikan arus listrik yang stabil kepada chip LED. Arus listrik akan selalu tidak stabil ketika tegangan sumber listrik turun atau naik. Hal ini tentunya akan membuat chip LED menjadi mudah terbakar ketika arus listrik melebihi kemampuan maksimalnya.

Daya disipasi terlalu besar

Pembatasan arus listrik menggunakan kapasitor secara teoritis dapat memberikan pembatasan arus yang cukup baik. Namun, di lain sisi sistem pembatasan arus ini akan membuat capacitor menjadi suatu beban tersendiri di dalam rangkaian listrik. Beban kapasitif ini tentunya akan membuatnya menyerap tenaga listrik yang dinamakan sebagai daya disipasi. Daya disipasi yang terlalu besar membuat capacitor ini menjadi sangat panas. Hasilnya, capacitor yang digunakan sebagai pembatas arus ini juga akan cepat rusak.

Tanpa sistem pembuangan panas

Chip LED yang tertanam pada PCB(Printed Circuit Board) pada umumnya tidak memiliki sistem pembuangan panas. Pembuangan panas hanya mengandalkan aliran udara melalui ventilasi kecil pada body lampu. PCB yang digunakan juga bukan terbuat dari bahan logam yang dapat membantu menyebarkan panas. Oleh karena itu, chip LED terpaksa bekerja dalam keadaan sangat panas dan ujung-ujungnya chip LED akan mati karena tidak tahan terhadap panas yang timbul.

Ventilasi pada lampu LED

Ventilasi yang diberikan pada body lampu LED dimaksudkan untuk membuang panas yang timbul dari komponen di dalam bola lampu. Namun, ventilasi udara ini akan menjadi pedang bermata dua. Kondisi body lampu yang hangat akan mengundang serangga untuk bersarang di dalamnya. Serangga kecil akan mudah masuk ke dalam bola lampu melalui ventilasi udara. Serangga yang berada di dalam bola lampu akan dengan mudah menyebabkan hubungan singkat terhadap komponen di dalam bola lampu. Komponen bola lampu akan mudah terbakar akibat adanya serangga tersebut.