Kakek Saya, Tokoh Inspiratif Saya - Photo Credit Eva Swensen

Kakek Saya, Tokoh Inspiratif Saya

Salah satu tokoh yang saya kenal adalah kakek saya sendiri. Saya tidak bisa membayangkan keberaniannya waktu itu untuk merantau jauh dari tanah kelahiran. Beliau merantau jauh tanpa rasa takut. Ia terlahir dari keluarga yang miskin dan orang tuanya pun tidak mampu untuk memberinya makan. Akhirnya, sejak kecil Ia harus bekerja menghidupi dirinya sendiri. Penghasilannya tiap hari hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan makannya sendiri. Ia tidak mampu memberikan apa pun kepada orang tuanya. Pada suatu hari, Ia mendapatkan kabar bahwa tanah tetangga lebih makmur dan lebih mudah mencari penghasilan. Tanpa berpikir panjang, Ia meminta restu kedua orang tuanya untuk pergi merantau ke tanah tetangga. Ini adalah cerita kakek saya sendiri yang membuat saya merasa kagum dan menjadikan panutan untuk saya. Cerita kehidupan kakek saya yang begitu berarti untuk saya ini akan saya bagikan di sini. Semoga cerita mengenai kakek saya, tokoh inspiratif saya juga akan berguna sebagai cerita inspiratif kawan-kawan semua.

Kakek saya, tokoh inspiratif saya

Beliau merantau jauh untuk mencari sesuap nasi pada umur 19. Berbekal tekat dan harapan untuk bisa mencari penghasilan dan mengirimkan uang kepada orang tuanya. Perjananan ke tanah asing ini, Ia dibekali uang 1/2 sen dan beberapa potong roti. Roti yang dibawanya pun akhirnya habis dimakan setelah menempuh perjalanan di atas laut.

Setibanya di tanah tetangga Ia pun merasa lapar akhirnya uang 1/2 sen tersebut Ia tukarkan dengan sepotong nanas. Beruntungnya Ia bertemu dengan seorang tetangga di kampungnya. Akhirnya Ia mendapatkan tumpangan tempat tinggal.

Tanpa modal, Beliau mulai bekerja dengan berjualan sayur. Beliau mengumpulkan kerang dan menangkap ikan untuk dijual. Beliau menabung uang sedikit demi sedikit akhirnya mampu menyewa sebuah rumah dan Beliau jadikan warung. Berbekal sebuah warung untuk mencari penghasilan, Ia pun mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Namun, penghasilan yang didapatkan selalu ditabungkan dan sebagian penghasilan Ia kirimkan kepada kedua orang tuanya yang berada di kampung halaman.

Upaya beliau mencari penghasilan ternyata tidak sampai di sana. Ia terus berusaha ingin mencari penghasilan yang lebih besar. Ia pun mencari cara untuk memproduksi kecap untuk dijual. Berbekal bahan-bahan di dalam warungnya Ia bereksperimen untuk menciptakan kecap yang layak jual. Setelah bereksperimen berbulan-bulan akhirnya Ia menemukan sebuah resep yang layak jual. Pada awalnya Ia mencoba produksi skala home industry. Ia pun menjualnya ke toko tetangga dan di warungnya sendiri. Ternyata kecap hasil produksi beliau bisa diterima oleh masyarakat. Permintaan kecapnya pun semakin meningkat.

Tekatnya yang begitu kuat untuk mencari penghasilan pun membuatnya tambah bersemangat. Semua keuntungan warung dan berjualan kecap. Ia kumpulkan hingga mampu membeli sebidang tanah dan membangun sebuah pabrik kecap beserta gudangnya. Setelah pabrik dan gudang selesai dibangun, Ia pun mulai memproduksi kecap dengan skala yang lebih besar. Akhirnya, kakek saya bisa mengoleksi beberapa properti dan menikmati hasil perjuangannya.

Hal yang membuat saya merasa sangat salut kepada kakek saya tersebut adalah beliau tidak pernah menikmati uang yang dihasilkan untuk kesenangan pribadi. Ia memanfaatkan uang tersebut untuk membantu keluarga, saudara dan orang-orang yang membutuhkan. Ia sangat disiplin pada diri sendiri untuk tidak menikmati hasil sebelum Ia benar-benar berhasil. Uang yang Ia kumpulkan selalu Ia gunakan sebagai modal untuk mengembangkan usahanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *