Terkadang hidup tidak seindah yang kita harapkan. Seorang anak terlahir ke dunia berharap akan menikmati kehidupan duniawi. Namun, tidak semua anak terlahir di keluarga yang berada. Tidak semua anak terlahir dengan sempurna. Kini Kami mengangkat sebuah cerita memilukan mengenai derita seorang anak terlahir tidak sempurna dan ini diambil dari sebuah cerita nyata.

Derita Seorang Anak Terlahir Tidak Sempurna – Cerita Nyata

Seorang anak laki-laki terlahir membawa kebahagiaan untuk keluarga dan dia diberi nama Alexander. Anak ini lebih akrab dipanggil dengan nama Alex. Awalnya hidup anak ini terlihat begitu indah. Dia merupakan buah hati keluarga dan satu-satunya di keluarga. Dia sering mendapat pujian dari kedua orang tua dan dia pun sering menjadi kebanggaan kedua orang tua.

Setelah beberapa tahun dirawat oleh kedua orang tua, anak ini tidak menunjukkan perkembangan intelijensi. Anak ini sering tidak menanggapi suara dari kedua orang tua maupun dari orang lain. Kedua orang tua pun mulai khawatir dan membawanya ke balai pengobatan dan menjalani pengobatan medis. Namun, ternyata anak malang ini, mendapatkan vonis gangguan pendengaran dan sedikit masalah perkembangan otak.

Cinta dari kedua orang tua kepada anaknya memang luar biasa, mereka rela menghabiskan banyak dana untuk mengobati kondisi kesehatan anak tercinta mereka. Mereka membelikan berbagai alat bantu pendengaran dan mengikutkan anaknya ke berbagai program untuk melatih kecerdasan anaknya.

Namun, setelah melakukan pengorbanan demi anak mereka selama beberapa tahun, mereka mulai merasa kelelahan dan cinta mereka terhadap Alex mulai pudar. Mereka mulai merasa malu memiliki Alex yang berkelakuan tidak seperti orang normal. Mereka mulai memberhentikan program yang diikuti Alex karena mereka menganggap semua pengorbanan mereka akan berakhir sia-sia.

Kedua orang tua Alex kemudian mencoba untuk mengubah nasib keluarga. Mereka menganggap Alex sudah gagal sebagai penerus keluarga. Mereka akhirnya melahirkan seorang putra penerus keluarga yang diberi nama Burito. Mereka kembali mengulang keceriaan keluarga seperti pertama kali hadirnya Alex di dalam keluarga. Pada saat itu, Burito menjadi buah hati keluarga dan Alex menjadi kurang diperhatikan.

Kedua orang tua Alex dan Burito ternyata secara tidak sadar menjadi pilih kasih. Mereka lebih menyayangi si kecil yang ternyata tidak memiliki masalah secara fisik dan mental. Perkembangan kesehatan anak kedua ini juga ternyata lebih baik dibandingkan kakaknya. Kehadiran Burito di dalam keluarga ternyata semakin melunturkan cinta kedua orang tua kepada Alex.

Umur Alex pun semakin bertambah namun perkembangan intelinjensi Anak ini cukup lambat ditambah dengan semua kegiatan belajarnya pun dihentikan oleh orang tuanya. Orang tua Alex memperlakukan Alex bagaikan pembantu. Mereka menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti: mencuci, menyapu, mengepel dan pekerjaan lain layaknya seorang pembantu. Namun, perlakuan berbeda didapatkan oleh sang adik. Hal ini yang membuat masyarakat menyebutnya anak bawang dan anak mas.

Kedua orang tua mengerahkan semua kekuatan finansial keluarga untuk membiayai hidup keluarga dan biaya pendidikan Burito. Mereka merasa beban keluarga yang bertambah berat dan akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan Alex di kampung bersama neneknya. Kini Alex pun harus hidup jauh dari kedua orang tuanya. Alex yang tidak berbekal pengetahuan dan didikan keluarga yang baik kini harus hanya menggantungkan nasibnya kepada sang nenek.

Keadaan ekonomi sang nenek yang juga sangat mengkhawatirkan. Kedua orang tua Alex juga tidak memberikan bekal untuk membiayai kehidupan sang nenek dan Alex. Hidup Alex dan sang nenek sungguh memilukan hati. Alex bagaikan dibuang oleh kedua orang tuanya untuk meringankan beban hidup. Kini Alex harus mampu berjuang sendiri demi masa depan dia sendiri. Ironisnya, Alex tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia telah dibuang oleh kedua orang tuanya.

Cerita ini berdasarkan suatu kejadian nyata namun Kami menyamarkan semua nama di dalam cerita. Kami mengangkat cerita ini untuk menyampaikan pesan bahwa anak adalah tanggung jawab orang tua. Kehadiran anak di dalam keluarga tidak selalu dapat menjadi suatu hal yang positif dan setiap orang tua harus siap menghadapi hal itu. Jadilah orang tua yang baik, tidak pilih kasih, bijaksana dan bertanggung jawab.